11 Maret, 2010

Hari Baik Buat Sepak Bola Menyerang

Hari ini saya dibuat tercengang dan kagum oleh keputusan berani, mungkin bisa juga dibilang perjudian, dari seorang Jaya Hartono. Ia memasukan 4 strikernya untuk mengejar defisit gol.

Persib dikejutkan oleh gol cepat di menit awal oleh sang tamu Bontang FC. Kenji, striker BFC asal Jepang, menghukum Persib atas blunder yang dibuat Maman.

Tekanan terus dilakukan oleh pasukan Maung Bandung. Bahkan menjelang akhir babak pertama Jaya Hartono merubah formasi baku 3-5-2 menjadi 3-4-3 dengan menarik Gilang Angga Kusuma dan memasukan Si Piton, Budi Sudarsono. Namun apa daya gol belum kunjung datang sampai dengan wasit Armando Pribadi asal Jakarta meniup peluit tanda waktu istirahat.

Kejutan terjadi di babak kedua pada saat ketegangan semakin memuncak kala anak-anak BFC berhasil membuat Persib terlhat frustasi. Jaya kembali melakukan pergantian pemain dan yang sangat mencengangkan adalah ia menarik Maman Abdurahman yang notabene seorang center back dengan Airlangga Sucipto seorang striker. Ini berarti Jaya kembali berjudi dengan memainkan pola 2-4-4. Sungguh langkah yang sangat berani dan jarang diperlihatkan oleh pelatih-pelatih lain sekelasnya di Liga Nasional.

Perjudian Jaya akhirnya mendapatkan imbalan dengan datangnya gol penyeimbang dari Christian 'El Loco' Gonzales melalui sebuah sundulan dari set piece tendangan pojok yang dikirimkan dengan tepat oleh Eka 'Ebol' Ramdhani pada menit 74. Pertandingan semakin menarik dan terbuka. Akhirnya layaknya seorang yang baru mendapatkan jackpot di Las Vegas, Jaya melompat kegirangan pada saat Hilton Moriera berhasil mencetak gol kemenangan dengan memanfaatkan kemelut di depan gawang BFC pada menit 83.

Duel Persib kontra Bontang FC sore hari ini memberikan hembusan nafas segar bagi persepakbolaan nasional. Tanpa bermaksud membesar-besarkan secara berlebihan. Namun saya salut akan pendekatan Jaya dalam menganalisa dan akhirnya menyikapi keadaan dengan keluar menyerang. Persib butuh kemenangan untuk bisa tetap menjaga kans menjadi juara. Jadi tidak ada bedanya kalah 1-0 dengan 5-0. Kalau mau balas mencetak gol dan menang ya harus menyerang. It's that simple.

Hari ini benar-benar hari baik buat sepak bola menyerang! (JS)

Sent from The Theatre of Dreams

09 Maret, 2010

Apa Kabar Irfan Bachdim?

Di awal tahun 2010 lalu beberapa media massa nasional ramai membicarakan seorang anak muda kelahiran Belanda berdarah Indonesia yang kembali ke Indonesia untuk mencoba peruntungannya di kancah sepak bola Nasional. Ia adalah Irfan Bachdim satu dari sedikit anak muda Indonesia yang mempunyai peruntungan berbeda dengan rata-rata anak muda Indonesia seumurannya. Ia pernah miencicipi liga utama Belanda memperkuat FC Utrecht.

Entah mengapa Irfan akhirnya memilih untuk hijrah ke Tanah Air dan melakukan uji coba di Persib Bandung dan Persija Jakarta. Namun alasan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga terlontar dari mulutnya kala dibombardir para pemburu berita mengenai alasannya kembali ke Indonesia.

Apapun alasan Irfan bukan itu sebenarnya yang membuat saya tergelitik untuk kembali corat-coret di atas keyboard. Secara mengejutkan dua pelatih papan atas Liga Indonesia, Jaya Hartono dan Benny Dollo, menolak mentah-mentah untuk merekrut Irfan. Alasan klasik kembali menjadi dalih kedua pelatih tersebut, tim mereka kebutuhannya adalah pemain yang sudah jadi. Bahkan menarik untuk ditelaah lebih jauh komentar dari Jaya Hartono yang mengakui teknik dasar Irfan sangat baik, skill individu mumpuni, kemampuan kontrol bola di atas rata-rata namun Irfan dinilai butuh beradaptasi lagi dengan kerasnya atmosfir Liga Indonesia. Dengan kata lain mungkin Jaya melihat fisik Irfan yang kurang lebih sama tinggi dengan Eka Ramdhani tidak akan kuat beradu dengan bek tangguh sekelas OK John dari Persik Kediri atau Pierre Njanka dari Arema Indonesia. Setali tiga uang dengan Jaya, Bendol pun tidak begitu terkesan kepada potensi yang ditawarkan oleh Irfan.

Mungkin kebanyakan publik sepak bola di Indonesia dapat menerima alasan kedua pelatih papan atas Liga Indonesia tersebut. Nama Irfan seakan menguap tak lama setelah kedua tim penghuni Liga Super Indonesia tersebut menutup pintu mereka untuknya. Hal ini justru semakin membuat saya bertanya-tanya. Sebenarnya bijaksanakah pilihan yang diambil oleh Jaya dan Bendol? Atau sebaiknya pola pikir yang hanya mengedepankan pencapaian instan ini mulai dirombak?

Kalau mau berandai-andai dan berkhayal menjadi Jaya atau Bendol saya akan merekrut Irfan. Kenapa? Teknik dasar, skill individu, kontrol bola yang mumpuni menjadi alasan pertama. Alasan berikutnya adalah dengan usia Irfan yang masih sangat muda berarti ia masih punya ruang banyak untuk berkembang. Memang kemungkinan besar Irfan tidak akan langsung memberikan dampak instan kepada tim. Namun itu justru poinnya. Sudah saatnya kita melupakan keinginan untuk menuai hasil instan. Biarkan Irfan bersatu dan melebur dengan tim dan beradaptasi. Waktu akan membuat semuanya menjadi mendekati kesempurnaan.

Mungkin Jaya dan Bendol tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Kalau mau adil kedua pelatih itu hanya punya waktu yang sangat pendek untuk bisa dapat membuktikan diri. Mereka dikontrak dengan durasi jangka pendek. Tidak seperti pelatih-pelatih top Eropa yang mempunyai waktu untuk dapat merekrut dan memupuk pemain-pemain muda binaan mereka.

Ternyata semuanya bermuara kepada budaya instan di dunia sepak bola Indonesia. Pelatih dan pemain tidak diberikan waktu yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Hanya sedikit dari mereka yang mempunya kemewahan waktu lebih panjang. Kebiasaan klub untuk mengontrak pemain dengan durasi pendek menurut saya benar-benar memasung dan membuat mentalitas tidak sehat.

Sistem sepak bola Indonesia harus segera berubah. Sepak bola Indonesia membutuhkan talenta-talenta anak muda seperti Irfan Bachdim. (JS)

Sent from The Theatre of Dreams

08 Maret, 2010

Kala Seorang Fans Resah

Sudah biasa kalau seorang fans resah karena tim pujaannya sedang tidak tampil dalam performa terbaiknya dan mengalami kekalahan beruntun. Tapi itu bukan yang sedang terjadi pada diri saya. Keresahan yang sedang saya alami jauh lebih besar dari keresahan saya terhadap tim nasional Indonesia yang nampaknya lebih hobi gonta-ganti pelatih daripada mengevaluasi ketua umumnya atau keresahan saya terhadap seorang pengadil lapangan dicokok polisi setelah meniup peluit panjang di atas lapangan hijau atas kecurigaan menerima suap.

Keresahan ini muncul dan menguat karena ketidak berdayaan saya sebagai seorang fans. Saya merasa tak berdaya dan tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat keresahan saya reda. Sebagai seorang fans yang saya tahu kewajibannya adalah memberikan dukungan terhadap tim yang saya dukung. Betapa bertambah keresahan saya ketika tahu tim sepak bola yang saya dukung tidak tahu di mana mereka akan menggelar pertandingan kandang karena stadion yang biasa mereka gunakan harus direnovasi. Jangan mimpi untuk bisa seperti fans di Eropa yang bisa membeli tiket terusan satu musim untuk dapat memberikan dukungan riil kepada tim kesayangan mereka. Untuk dapat membeli jersey replika yang orisinil saja susahnya minta ampun karena ternyata klub tidak punya took resmi. Mungkin saya masih beruntung karena saya masih bisa mengikuti perkembangan tim kesayangan saya melalui dunia maya. Sesekali kalau saya sedang beruntung dapat tiket, saya bisa bisa menyaksikan langsung di stadion dengan mengenakan jersey yang sudah tidak up to date lagi.

Sebegitu sulitkah menjadi fans di negeri ini? Saya yakin kalau banyak fans di luar sana yang merasakan hal yang serupa dengan saya. Fans-fans yang mempunyai energi berlebih dan sedikit materi yang rela kami korbankan untuk dapat menjadi sumbangsih untuk tim kesayangan kami. Sayang sekali apabila potensi-potensi seperti kami ini terus menerus tak terjawab keresahannya. Bukan tidak mungkin kami lama-lama jengah dan berpaling. Sampai dengan saat ini saya masih belum patah arang untuk mencari obat buat pereda keresahan ini. Bagai seoarang pecandu narkoba saya mengais-ngais setiap informasimengenai klub kesayangan saya melalu media apa saja untuk memuaskan dahaga. Salah satu pelepasan yang bias saya lakukan adalah dengan corat-coret iseng di di atas keyboard ini.

Kalau saja tiket terusan tahunan tersedia dan dapat di beli dengan mudah melalui online, klub mempunyai toko resmi tempat membeli jersey replika resmi dan banyak lagi fasilitas lainnya bagi fans tersedia dengan akses yang mudah. Kami fans yang resah ini pasti rela menyisihkan uang kami untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas tersebut. Apabila kontribusi kami itu langsung masuk mengalir ke kas klub, maka terjawablah keresahan kami. Pada saat itulah kami para fans dapat menyebut diri kami FANS! Fans yang memberikan kontribusi lebih dari sekedar teriakan atau nyanyian di lapangan. Bukan hanya sekelompok orang yang mendukung secara membabi buta tanpa tahu hakikat utama dari seorang fans.

Bukan maksud saya bahwa seseorang baru dapat menyebut dirinya seoarang fans sejati apabila mampu membeli tiket terusan satu musim atau mengenakan jersey replika orisinil dengan harga ratusan ribu. Mari kita telaah dan resapi tulisan ini lebih jauh lagi. Saya ingin mengajak klub untuk sadar bahwa ada potensi besar terbentang di depan mata yang belum digarap. Begitu pula kepada para teman-teman sesama fans untuk membuka mata hati untuk kembali bertanya kepada diri sendiri apa yang sudah kalian berikan kepada klub anda. Jangan terus menghebuskan nada-nada permusuhan di stadion dengan nyanyian rasis atau indoktrinasi murahan untuk membenci secara membabi buta kelompok fans lain.

Berikan sumbangsih secara nyata kepada klub kesayangan kita masing-masing dan berbanggalah karena kita adalah fans sejati! (JS)

Sent from The Theatre of Dreams

27 Juli, 2009

Ada Yang Salah Dengan Negara Ini

Kalau dilihat dan dipikirkan lagi sambil merenung di sela-sela kesibukan yang menggunung ada sesuatu yang mengganjal dipikiran. Sebenarnya ada yang salah dengan negara kita tercinta. Mohon maaf kalau tulisan ini jadi menyinggung beberapa kawan-kawan, kelompok atau golongan tertentu.

Hal yang paling mengganjal di hati dan pikiran saya adalah ketika fakta mengungkapkan hampir sebagian besar kaki tangan kelompok teroris yang digalang oleh Noordin M. Top adalah almamater pondok pesantren Ngruki, Surakarta. Tentunya tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka dong. Sekali lagi beribu maaf buat teman-teman yang mungkin juga jebolan ponpes tersebut atau mungkin ponpes lainnya. Bukan maksud saya untuk memojokan institusi di ponpes. Tetapi pasti ada yang salah di ponpes yang konon dipimpin oleh Abubakar Ba'asyir ini. Apakah diajarkan paham-paham kebencian di sana? Saya juga tidak tahu pasti. Sebut nama-nama seperti Adung, Asmar Latin Sani dan Fathurrahman al-Ghozi adalah beberapa nama jebolan ponpes Ngruki. Dengan mudahnya almamater demi almamater dari Ngruki direkrut dan dicuci otaknya untuk melakukan apa yang mereka percaya sebagai jihad. Pertanyaan yang lebih besar lagi adalah mengapa pemerintah seakan tak berdaya menghadapi institusi ini.

Setelah itu ada Omar Dhani seorang pimpinan angkatan bersenjata paling muda yang pernah dilantik di Indonesia. Marsekal Madya Omar Dhani, lengkapnya dilantik menjadi KSAU pada saat umurnya baru genap 38 tahun. Ironisnya Omar Dhani menutup karir militernya dengan tidak cantik. Almarhum dipecat sebagai KSAU pada tanggal 24 November 1965 karena dituduh terlibat G30S-PKI. Coba tebak atas dasar apa tuduhan itu dibuat! Cuma semata-mata beliau membiarkan Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) berlatih di pangkalan udara Halim Perdana Kusuma yang menjadi daerah kewenangannya. Pada bulan Desember 1966 Mahmilub menjatuhkan hukuman mati dan mencabut semua pangkat dan bintang Omar Dhani. Tetapi bersama Dr. Soebandrio Omar Dhani mendapatkan grasi setelah menjalani 29 tahun masa kurungan. Empat hari yang lalu Omar Dhani menutup hidupnya dengan menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara (RSPAU) Halim Perdana Kusuma. Omar Dhani dikuburkan di TPU Jeruk Purut secara Militer. APA!!!! Sunggu suatu ketidak konsistenan dari pemerintah dan menunjukan satu lagi indikasi ada yang salah dengan negara tercinta ini.

Dua hal di atas sangat mengganggu pikiran dan hati saya akhir-akhir ini. Berikut satu cuplikan dari pledoi Omar Dhani yang diterbitkan sebagai buku berjudul "Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku".

“Bersamaan dengan suara palu hakim, berdentang-dentang bunyi lonceng gereja di
samping gedung Mahmilub. Waktu tepat pukul 00.00 tengah malam, tanggal 24
Desember 1966, bersamaan dengan malam Natal, malam kudus umat Kristiani. Pula
bulan itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam.
Pertemuan kekudusan dan kesucian antara dua agama yang bersumber dari Allah.
Tuhan adalah Tuhan seluuh umat manusia. Dipersatukan-Nya dua peristiwa agama
yang besar di bulan itu. Dipersatukannya pula ketokan palu hakim yang mengubah
kisah seorang anak manusia. Putusan Majelis telah diawali dengan kata-kata “Demi
keadilan berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa….”

Semoga negara ini cepat sembuh.

24 Juni, 2009

Maverick

Written by Mark Payne

What we have seen at Old Trafford this year, and all around the world, was not really the United we have come to know and love. With the exception of Macheda’s goals I can think of very few moments from the past season when I sat on my chair and thought “this is United, this is why I follow”.

We had the look of a dogged team, there were a few flashes of extravagance, mainly from Ronaldo, but nowhere near enough bravado to stand comparison to the heroes of yesteryear. I felt at times this United team was a can of spam compared to the Sunday roasts we have been raised on. It is churlish to complain of course when you are winning trophies, but something is missing.

In particular with the Carling Cup and the Club World Cup, it was almost as if we were collecting them rather than winning them. The spending in recent seasons has put our squad out of sight of even Chelsea in the quest to challenge for honours but there is something amiss in team spirit.
It is a United tradition, stretcing way back to the days of Billy Meredith, to have at the core of the side a maverick. A divinely gifted player who riles the opposition, outclasses them and has a bond with the supporters borne of having a “roll-your-sleeves-up” attitude and a touch of arrogance.

Although not arrogant in any way, Robson’s sleeves were so far rolled up they met in the middle and the guy would have died for the shirt. Cantona and latterly Keane were heirs to Meredith’s tralblazing. During the sixties Denis Law’s attitude to authority made Marlon Brando look like a convent nun.

Where is that player now? We have the supremely gifted Ronaldo, but he seems to wind us up as much as the opposition, although he always, always wins me over with his football. Rooney is the closest I suppose but the x-factor is not quite there. Tevez’s dispute with the club breaks my heart as he could be the true talisman of the team.

What is without question is that we currently lack a character, somebody mildly psychotic, to fire them up in the heat of battle. We were slaughtered in Rome, absolutely murdered and I couldn’t see anywhere on the park where it was going to turn around. How I longed to see Norman Whiteside trot on, a la Anfield 88, and start making things even.

He is not there, in fact, there are no Big Norms at the moment. The problem, I think, is because we are getting the players so young now they are indoctrinated into the United mythology before maverick tendencies can develop.

I would suggest we missed a trick here. If Ballack had come he would have been a hero for us, nobody really likes him but he is brilliant- a perfect fit for United, shame he didn’t. Looking around world football I cannot see that attitude too obviously anywhere. It is that attitude that I crave to see again on the pitch. For all of the merits of the current heroes, there is something slightly lacking in charisma.

Nonetheless, our shortcomings are far less yawning than those of our rivals and major surgery is not required over the summer months. I do, however, expect changes we may not see coming. Ronaldo, Tevez and Ribery will occupy most of the column inches over the next 10 weeks but be ready for something you don’t expect. The one maverick we definitely do still have is the manager, and he still has a few tricks left up his sleeve.