09 Maret, 2010

Apa Kabar Irfan Bachdim?

Di awal tahun 2010 lalu beberapa media massa nasional ramai membicarakan seorang anak muda kelahiran Belanda berdarah Indonesia yang kembali ke Indonesia untuk mencoba peruntungannya di kancah sepak bola Nasional. Ia adalah Irfan Bachdim satu dari sedikit anak muda Indonesia yang mempunyai peruntungan berbeda dengan rata-rata anak muda Indonesia seumurannya. Ia pernah miencicipi liga utama Belanda memperkuat FC Utrecht.

Entah mengapa Irfan akhirnya memilih untuk hijrah ke Tanah Air dan melakukan uji coba di Persib Bandung dan Persija Jakarta. Namun alasan untuk bisa lebih dekat dengan keluarga terlontar dari mulutnya kala dibombardir para pemburu berita mengenai alasannya kembali ke Indonesia.

Apapun alasan Irfan bukan itu sebenarnya yang membuat saya tergelitik untuk kembali corat-coret di atas keyboard. Secara mengejutkan dua pelatih papan atas Liga Indonesia, Jaya Hartono dan Benny Dollo, menolak mentah-mentah untuk merekrut Irfan. Alasan klasik kembali menjadi dalih kedua pelatih tersebut, tim mereka kebutuhannya adalah pemain yang sudah jadi. Bahkan menarik untuk ditelaah lebih jauh komentar dari Jaya Hartono yang mengakui teknik dasar Irfan sangat baik, skill individu mumpuni, kemampuan kontrol bola di atas rata-rata namun Irfan dinilai butuh beradaptasi lagi dengan kerasnya atmosfir Liga Indonesia. Dengan kata lain mungkin Jaya melihat fisik Irfan yang kurang lebih sama tinggi dengan Eka Ramdhani tidak akan kuat beradu dengan bek tangguh sekelas OK John dari Persik Kediri atau Pierre Njanka dari Arema Indonesia. Setali tiga uang dengan Jaya, Bendol pun tidak begitu terkesan kepada potensi yang ditawarkan oleh Irfan.

Mungkin kebanyakan publik sepak bola di Indonesia dapat menerima alasan kedua pelatih papan atas Liga Indonesia tersebut. Nama Irfan seakan menguap tak lama setelah kedua tim penghuni Liga Super Indonesia tersebut menutup pintu mereka untuknya. Hal ini justru semakin membuat saya bertanya-tanya. Sebenarnya bijaksanakah pilihan yang diambil oleh Jaya dan Bendol? Atau sebaiknya pola pikir yang hanya mengedepankan pencapaian instan ini mulai dirombak?

Kalau mau berandai-andai dan berkhayal menjadi Jaya atau Bendol saya akan merekrut Irfan. Kenapa? Teknik dasar, skill individu, kontrol bola yang mumpuni menjadi alasan pertama. Alasan berikutnya adalah dengan usia Irfan yang masih sangat muda berarti ia masih punya ruang banyak untuk berkembang. Memang kemungkinan besar Irfan tidak akan langsung memberikan dampak instan kepada tim. Namun itu justru poinnya. Sudah saatnya kita melupakan keinginan untuk menuai hasil instan. Biarkan Irfan bersatu dan melebur dengan tim dan beradaptasi. Waktu akan membuat semuanya menjadi mendekati kesempurnaan.

Mungkin Jaya dan Bendol tidak sepenuhnya salah dalam hal ini. Kalau mau adil kedua pelatih itu hanya punya waktu yang sangat pendek untuk bisa dapat membuktikan diri. Mereka dikontrak dengan durasi jangka pendek. Tidak seperti pelatih-pelatih top Eropa yang mempunyai waktu untuk dapat merekrut dan memupuk pemain-pemain muda binaan mereka.

Ternyata semuanya bermuara kepada budaya instan di dunia sepak bola Indonesia. Pelatih dan pemain tidak diberikan waktu yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Hanya sedikit dari mereka yang mempunya kemewahan waktu lebih panjang. Kebiasaan klub untuk mengontrak pemain dengan durasi pendek menurut saya benar-benar memasung dan membuat mentalitas tidak sehat.

Sistem sepak bola Indonesia harus segera berubah. Sepak bola Indonesia membutuhkan talenta-talenta anak muda seperti Irfan Bachdim. (JS)

Sent from The Theatre of Dreams

1 komentar:

THE AFDHAL mengatakan...

REGENERASI yang berjalan LAMBAT, itu juga salah satu penyebab sepakbola kita seperti ini.

pernah baca dari sebuah media, KURNIAWAN DJ mengatakan : PSSI Jangan terlalu banyak effort utk ke'instant"an prestasi Sepakbola Indonesia, tapi REGENERASI HUKUMNYA dan efford yang lebih

GOD BLESS INDONESIA

*tulisanmu tetep khas tulisan seorang PR" :)