02 April, 2009

Saatnya Menjadi Berbeda Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata

Masih hangat diingatan saya ada seorang ibu dari seorang teman yang berkata kepada anaknya yang sedang menjalani tahun terakhir di bangku SMAnya, ”Apa yang ada di dalam otak kamu? Mau makan apa kalau cita-cita jadi musisi!” Tentu saja tidak sekonyong-konyong sang ibu berkata begitu sinis kepada anaknya. Teryata sang ibu secara refleks berkata seperti itu setelah kawan saya, sebut saja David, mengutarakan niatnya kepada sang ibu tercinta bahwa dia berencana untuk mengejar impiannya untuk menjadi seorang musisi profesional dan memupuskan impian orang tuanya melihat anaknya menjadi seorang sarjana ekonomi.

Ada lagi satu cerita yang masih terngiang-ngiang dipikiran saya, lagi-lagi mengenai seorang kawan SMA bernama Wima yang bernazar seumur hidupnya tidak akan pernah mau memakai dasi dan berkantor di dalam sebuah kantor di jalan protokol ibu kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pecah gelak tawa dan hujatan kala nazar itu terucap di suatu malam minggu di salah satu warung makan di Bogor kala itu. Sampai muncul satu statement yang cukup mengerikan muncul saat itu, ”Lo akan sulit diterima calon mertua boss!”

Sekarang belum genap sepuluh tahun sejak dua cerita di atas terjadi. David telah mewujudkan impian hidupnya menjadi seorang musisi profesional. Segala daya upaya dikerahkan David untuk mewujudkan impiannya. Ternyata David mempunyai visi kalau ia mau berhasil menjadi seorang musisi profesional di Indonesia, bakat saja tidak cukup untuk dijadikan pegangan. Setelah berhasil mendapatkan pinjaman uang secukupnya, berangkatlah David ke Musician Institute di Hollywood Boulevard, Amerika. Sekarang David sudah menjadi salah satu gitaris yang cukup diperhitungkan keberadaannya di industri musik Indonesia. Beberapa musisi papan atas telah menggunakan jasanya untuk memperkaya karya-karya mereka. David juga sekarang telah menjadi tulang punggung keluarganya. Apa yang terjadi dengan Wima? Wima telah menjadi seorang desainer grafis yang cukup sukses. Berkantor di sebuah rumah di bilangan Buncit, tidak perlu menggunakan dasi sama sekali dalam kesehariannya mencari nafkah dan lucunya Wima menjadi menantu paling disayang.

Dari dua cerita kawan saya dapat terlihat bahwa ada pergeseran nilai-nilai di masyarakat kita. Nilai-nilai konservatif, cenderung bermain aman dan seragam sudah tidak lagi menjadi kiblat. Nilai-nilai baru seperti percaya diri, tahu apa yang diinginkan dan baik untuk diri sendiri, berbeda dari yang lain serta berusaha untuk menjadi spesialis bukan generalis lambat laun mulai merambah generasi muda Indonesia.

Nilai-nilai tersebut juga mulai dilirik oleh dunia Industri di Indonesia. Salah satu contoh yang paling menarik adalah salah satu produk rokok Mild asal Surabaya yang mulai mengadopsi strategi marketing yang tidak konvensional. Mereka menggandeng sembilan ikon yang mempunyai latar belakang dan profesi berbeda untuk mendesain pack rokok mereka sesuai dengan kepribadian mereka masing-masing. Kesembilan ikon yang digadang-gadang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sama dengan produk mereka adalah Hanung Bramantyo (Sutradara), David ’Naif’ (Musisi), Demian Aditya (Ilusionis), Riri Mestika (Disk Jockey), Dendy (Desainer), Veroland (Modifikator Motor Besar), Lola Amaria (Bintang Film & Produser), J-Rocks (Grup Band) dan Anton Ismael (Fotografer).

Cerita kesembilan ikon ini mungkin tidak persis sama dengan cerita kedua teman saya. Namun ada satu persamaan diantara mereka yaitu semangat tinggi mendobrak dinding konvensionalitas dengan kepercayaan diri tinggi dalam menjalani hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka sukses dibidang mereka masing-masing tanpa harus berkompromi dengan nilai-nilai yang mereka tidak percayai. Di lain pihak pencapaian mereka dapat memberikan inspirasi kepada orang lain.

Ternyata sudah saatnya kita ucapkan selamat tinggal kepada era lama yang serba konvensional yang serba hati-hati. Mari kita ucapkan selamat datang kepada era baru dimana rasa percaya diri menjadi logika dan kreatifitas menjadi dogmanya.

19 Maret, 2009

My Pride and Glory

Hari Minggu, 24 Agustus 2008 menjadi hari terbaik dalam hidup saya, menggeser hari Rabu, 26 May 2009 di mana Manchester United memenangkan partai Final Piala Champions Eropa secara dramatis. Hari itu anak ku lahir dengan berat 4 kg dan panjang 60 cm. Campur aduk perasaan saya di subuh itu, bangga, terharu, tidak percaya. Mirip sekali dengan perasaan waktu Manchester United akhirnya bisa mengejar bahkan mengalahkan Bayern Munchen setelah tertinggal 0-1 di Camp Nou, Barcelona, Spanyol.

Lintang Kelana Putra Sudjana nama anak ku. Ada filosofi kecil-kecilan dibelakang arti nama itu. Lintang bisa diartikan Bintang. Kelana sama dengan berkelana. Sedangkan Putra Sudjana artinya anak penerus klan Sudjana. Nah, kalau digabungkan artinya adalah saya dan istri mengharapkan Lintang menjadi bintang penjaga bagi orang-orang yang senang berkelana, guidance star lah bahasa kerennya. Kami juga berharap Lintang bisa berkelana ke tempat-tempat yang menarik di seluruh dunia.

Lintang sekarang sudah berumur enam bulan. Puji tuhan pertumbuhannya normal dan sangat pesat. Murah senyum itulah si Lintang. Senyumnya selalu manis merekah untuk siapa saja yang menyapanya. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin dia senang karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadanya. Dia juga sekarang sudah cerewet dan mulai bisa berteriak. Merangkak pun sudah lancar. Aktif sekali anak ini sampai-sampai habis tenaga kita meladeni Lintang bermain.

Satu hal lagi dari Lintang yang selalu membuat hati ku selalu luluh. Kedua matanya yang bulat khas penari Bali. Mungkin ia mendapatkannya dari ibunya yang memang orang Klungkung, Bali. Walaupun saya tidak setiap hari bertemu dengan Lintang, hanya pada akhir pekan saja, setiap kali saya pulang dan menggendong Lintang, dia selalu membelalakan mata bulatnya dan tersenyum lebar untuk daddynya.

Ya, saya tidak tinggal serumah dengan anak ku. Lintang sekarang masih tinggal bersama neneknya di Banjaran, Bandung Selatan. Sedangkan saya dan istri kost di Jakarta. Bukan karena alasan apa-apa. Hanya karena kebetulan rumah yang kami beli di Depok belum sepenuhnya selesai dan nyaman untuk ditinggali. Kasihan Lintang kalau harus tinggal di rumah yang masih belum rindang dan berdebu. Udara sejuk khas tanah Parahyangan sangat baik untuk Lintang. Tinggal lebih lama di Bandung akan membuat Lintang lebih Sunda dari pada bapaknya yang seumur hidupnya tidak pernah tinggal di Bandung walau ngakunya orang Bandung.

Belum banyak yang bisa saya ceritakan lagi mengenai anak ku Lintang. Stay tune untuk up datenya!

18 Maret, 2009

Kampanye = Pembodohan?

Ratusan orang bermotor membawa bendera dengan gambar partai mereka masing-masing mewarnai Jakarta mulai hari ini. Berlagak seperti yang empunya jalan, belok ke kanan, belok ke kiri, memaksa saya untuk minggir dan berhenti untuk berhenti supaya rombongan mereka bisa lewat dengan lancar. Dengan sangat terpaksa, didasari dengan idiom "yang waras ngalah", saya menghentikan mobil dan mengelus dada.

Sebenarnya pesan apa sih yang mereka mau sampaikan ke orang-orang kaya saya yang sampai sekarang masih bingung mau pilih siapa di Pemilu tahun ini. Bukannya simpati dan tergerak untuk mempercayakan suara saya kepada partai mereka. Malah amarah dan antipati yang muncul. Seharusnya mereka sadar kalau pesan mereka itu sama sekali tidak sampai. Itu juga kalau mereka punya sesuatu yang bisa bener-bener dijalankan untuk kepentingan kita semua.

Apa sih program mereka sebenarnya. Tidak ada tuh yang sampai sekarang jelas mereka mau buat apa. Ada yang bilang "Kita harus berpihak kepada petani, pedagang di pasar basah, dll." Caranya bagaimana kang! Ada lagi yang bilang "Bilang stop untuk korupsi." Ahhh klise binti basi.

Pengalaman saya menjalani dua kali masa pemilihan umum adalah kebanyakan nyusahinnya dibanding nyenenginnya. Contoh yang paling gress adalah Polisi jadi takut menjalankan tugasnya menjaga pertandingan bola. Aneh kok bisa tolak kerjaan ya? Mengamankan adalah tugas Polisi, bukannya kerja malah tidak mau keluarkan ijin? Lucu ya.

Untuk penggila bola seperti saya yang tidak mampu berlangganan TV kabel dan sudah tidak kuat lagi begadang, tayangan langsung sepak bola nasional di jam-jam prime time adalah hiburan gratis yang sangat berharga. Gara-gara kegiatan pembodohan publik yang lagi rame-ramenya lenyap sudah satu-satunya hiburan di akhir minggu.

Ini cuma sekedar jeritan desparate orang yang tidak usah didengar.

26 November, 2007

Suara Sumbang dari Mattoangin

Tiga buah spanduk berukuran besar yang bernada dukungan terhadap Nurdin Halid terlihat jelas di stadion Mattoangin, Makassar pada saat PSM Makassar bertemu Persija Jakarta di Leg kedua babak 16 besar turnamen sepak bola Copa Dji Sam Soe Indonesia Minggu malam kemarin.

Yang menggelitik adalah apakah spanduk-spanduk tersebut betul-betul dibuat atas dukungan murni dari supporter PSM Makassar? atau dukungan tersebut hanya dukungan titipan dari segelintir oknum yang masih setia terhadap beliau yang mendekam di sel? Di saat beberapa kelompok supporter di beberapa kota berlomba-lomba menyuarakan Nurdin untuk mundur, suara lain muncul dari Mattoangin.

Sepakbola Indonesia sedang mengalami masa tergelapnya, mati suri dengan segala keterpurukannya. Kemana lagi sepakbola Indonesia akan dibawa oleh seorang pesakitan yang sudah lebih dari satu kali terbongkar boroknya. Begitu terbutakankah mata saudara-saudara kami di Makassar atau sebegitu jahatnya oknum penjilat yang mengatas namakan supporter PSM untuk menyuarakan dukungan-dukungan tersebut?