24 Juni, 2009
Maverick
What we have seen at Old Trafford this year, and all around the world, was not really the United we have come to know and love. With the exception of Macheda’s goals I can think of very few moments from the past season when I sat on my chair and thought “this is United, this is why I follow”.
We had the look of a dogged team, there were a few flashes of extravagance, mainly from Ronaldo, but nowhere near enough bravado to stand comparison to the heroes of yesteryear. I felt at times this United team was a can of spam compared to the Sunday roasts we have been raised on. It is churlish to complain of course when you are winning trophies, but something is missing.
In particular with the Carling Cup and the Club World Cup, it was almost as if we were collecting them rather than winning them. The spending in recent seasons has put our squad out of sight of even Chelsea in the quest to challenge for honours but there is something amiss in team spirit.
It is a United tradition, stretcing way back to the days of Billy Meredith, to have at the core of the side a maverick. A divinely gifted player who riles the opposition, outclasses them and has a bond with the supporters borne of having a “roll-your-sleeves-up” attitude and a touch of arrogance.
Although not arrogant in any way, Robson’s sleeves were so far rolled up they met in the middle and the guy would have died for the shirt. Cantona and latterly Keane were heirs to Meredith’s tralblazing. During the sixties Denis Law’s attitude to authority made Marlon Brando look like a convent nun.
Where is that player now? We have the supremely gifted Ronaldo, but he seems to wind us up as much as the opposition, although he always, always wins me over with his football. Rooney is the closest I suppose but the x-factor is not quite there. Tevez’s dispute with the club breaks my heart as he could be the true talisman of the team.
What is without question is that we currently lack a character, somebody mildly psychotic, to fire them up in the heat of battle. We were slaughtered in Rome, absolutely murdered and I couldn’t see anywhere on the park where it was going to turn around. How I longed to see Norman Whiteside trot on, a la Anfield 88, and start making things even.
He is not there, in fact, there are no Big Norms at the moment. The problem, I think, is because we are getting the players so young now they are indoctrinated into the United mythology before maverick tendencies can develop.
I would suggest we missed a trick here. If Ballack had come he would have been a hero for us, nobody really likes him but he is brilliant- a perfect fit for United, shame he didn’t. Looking around world football I cannot see that attitude too obviously anywhere. It is that attitude that I crave to see again on the pitch. For all of the merits of the current heroes, there is something slightly lacking in charisma.
Nonetheless, our shortcomings are far less yawning than those of our rivals and major surgery is not required over the summer months. I do, however, expect changes we may not see coming. Ronaldo, Tevez and Ribery will occupy most of the column inches over the next 10 weeks but be ready for something you don’t expect. The one maverick we definitely do still have is the manager, and he still has a few tricks left up his sleeve.
02 April, 2009
Saatnya Menjadi Berbeda Tidak Lagi Dipandang Sebelah Mata
Ada lagi satu cerita yang masih terngiang-ngiang dipikiran saya, lagi-lagi mengenai seorang kawan SMA bernama Wima yang bernazar seumur hidupnya tidak akan pernah mau memakai dasi dan berkantor di dalam sebuah kantor di jalan protokol ibu kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pecah gelak tawa dan hujatan kala nazar itu terucap di suatu malam minggu di salah satu warung makan di Bogor kala itu. Sampai muncul satu statement yang cukup mengerikan muncul saat itu, ”Lo akan sulit diterima calon mertua boss!”
Sekarang belum genap sepuluh tahun sejak dua cerita di atas terjadi. David telah mewujudkan impian hidupnya menjadi seorang musisi profesional. Segala daya upaya dikerahkan David untuk mewujudkan impiannya. Ternyata David mempunyai visi kalau ia mau berhasil menjadi seorang musisi profesional di Indonesia, bakat saja tidak cukup untuk dijadikan pegangan. Setelah berhasil mendapatkan pinjaman uang secukupnya, berangkatlah David ke Musician Institute di Hollywood Boulevard, Amerika. Sekarang David sudah menjadi salah satu gitaris yang cukup diperhitungkan keberadaannya di industri musik Indonesia. Beberapa musisi papan atas telah menggunakan jasanya untuk memperkaya karya-karya mereka. David juga sekarang telah menjadi tulang punggung keluarganya. Apa yang terjadi dengan Wima? Wima telah menjadi seorang desainer grafis yang cukup sukses. Berkantor di sebuah rumah di bilangan Buncit, tidak perlu menggunakan dasi sama sekali dalam kesehariannya mencari nafkah dan lucunya Wima menjadi menantu paling disayang.
Dari dua cerita kawan saya dapat terlihat bahwa ada pergeseran nilai-nilai di masyarakat kita. Nilai-nilai konservatif, cenderung bermain aman dan seragam sudah tidak lagi menjadi kiblat. Nilai-nilai baru seperti percaya diri, tahu apa yang diinginkan dan baik untuk diri sendiri, berbeda dari yang lain serta berusaha untuk menjadi spesialis bukan generalis lambat laun mulai merambah generasi muda Indonesia.
Nilai-nilai tersebut juga mulai dilirik oleh dunia Industri di Indonesia. Salah satu contoh yang paling menarik adalah salah satu produk rokok Mild asal Surabaya yang mulai mengadopsi strategi marketing yang tidak konvensional. Mereka menggandeng sembilan ikon yang mempunyai latar belakang dan profesi berbeda untuk mendesain pack rokok mereka sesuai dengan kepribadian mereka masing-masing. Kesembilan ikon yang digadang-gadang memiliki nilai-nilai kehidupan yang sama dengan produk mereka adalah Hanung Bramantyo (Sutradara), David ’Naif’ (Musisi), Demian Aditya (Ilusionis), Riri Mestika (Disk Jockey), Dendy (Desainer), Veroland (Modifikator Motor Besar), Lola Amaria (Bintang Film & Produser), J-Rocks (Grup Band) dan Anton Ismael (Fotografer).
Cerita kesembilan ikon ini mungkin tidak persis sama dengan cerita kedua teman saya. Namun ada satu persamaan diantara mereka yaitu semangat tinggi mendobrak dinding konvensionalitas dengan kepercayaan diri tinggi dalam menjalani hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka sukses dibidang mereka masing-masing tanpa harus berkompromi dengan nilai-nilai yang mereka tidak percayai. Di lain pihak pencapaian mereka dapat memberikan inspirasi kepada orang lain.
Ternyata sudah saatnya kita ucapkan selamat tinggal kepada era lama yang serba konvensional yang serba hati-hati. Mari kita ucapkan selamat datang kepada era baru dimana rasa percaya diri menjadi logika dan kreatifitas menjadi dogmanya.
19 Maret, 2009
My Pride and Glory
Hari Minggu, 24 Agustus 2008 menjadi hari terbaik dalam hidup saya, menggeser hari Rabu, 26 May 2009 di mana Manchester United memenangkan partai Final Piala Champions Eropa secara dramatis. Hari itu anak ku lahir dengan berat 4 kg dan panjang 60 cm. Campur aduk perasaan saya di subuh itu, bangga, terharu, tidak percaya. Mirip sekali dengan perasaan waktu Manchester United akhirnya bisa mengejar bahkan mengalahkan Bayern Munchen setelah tertinggal 0-1 di Camp Nou, Barcelona, Spanyol.
Lintang Kelana Putra Sudjana nama anak ku. Ada filosofi kecil-kecilan dibelakang arti nama itu. Lintang bisa diartikan Bintang. Kelana sama dengan berkelana. Sedangkan Putra Sudjana artinya anak penerus klan Sudjana. Nah, kalau digabungkan artinya adalah saya dan istri mengharapkan Lintang menjadi bintang penjaga bagi orang-orang yang senang berkelana, guidance star lah bahasa kerennya. Kami juga berharap Lintang bisa berkelana ke tempat-tempat yang menarik di seluruh dunia.Lintang sekarang sudah berumur enam bulan. Puji tuhan pertumbuhannya normal dan sangat pesat. Murah senyum itulah si Lintang. Senyumnya selalu manis merekah untuk siapa saja yang menyapanya. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin dia senang karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadanya. Dia juga sekarang sudah cerewet dan mulai bisa berteriak. Merangkak pun sudah lancar. Aktif sekali anak ini sampai-sampai habis tenaga kita meladeni Lintang bermain.
-001.jpg)
Satu hal lagi dari Lintang yang selalu membuat hati ku selalu luluh. Kedua matanya yang bulat khas penari Bali. Mungkin ia mendapatkannya dari ibunya yang memang orang Klungkung, Bali. Walaupun saya tidak setiap hari bertemu dengan Lintang, hanya pada akhir pekan saja, setiap kali saya pulang dan menggendong Lintang, dia selalu membelalakan mata bulatnya dan tersenyum lebar untuk daddynya.

Ya, saya tidak tinggal serumah dengan anak ku. Lintang sekarang masih tinggal bersama neneknya di Banjaran, Bandung Selatan. Sedangkan saya dan istri kost di Jakarta. Bukan karena alasan apa-apa. Hanya karena kebetulan rumah yang kami beli di Depok belum sepenuhnya selesai dan nyaman untuk ditinggali. Kasihan Lintang kalau harus tinggal di rumah yang masih belum rindang dan berdebu. Udara sejuk khas tanah Parahyangan sangat baik untuk Lintang. Tinggal lebih lama di Bandung akan membuat Lintang lebih Sunda dari pada bapaknya yang seumur hidupnya tidak pernah tinggal di Bandung walau ngakunya orang Bandung.
Belum banyak yang bisa saya ceritakan lagi mengenai anak ku Lintang. Stay tune untuk up datenya!
18 Maret, 2009
Kampanye = Pembodohan?
Sebenarnya pesan apa sih yang mereka mau sampaikan ke orang-orang kaya saya yang sampai sekarang masih bingung mau pilih siapa di Pemilu tahun ini. Bukannya simpati dan tergerak untuk mempercayakan suara saya kepada partai mereka. Malah amarah dan antipati yang muncul. Seharusnya mereka sadar kalau pesan mereka itu sama sekali tidak sampai. Itu juga kalau mereka punya sesuatu yang bisa bener-bener dijalankan untuk kepentingan kita semua.
Apa sih program mereka sebenarnya. Tidak ada tuh yang sampai sekarang jelas mereka mau buat apa. Ada yang bilang "Kita harus berpihak kepada petani, pedagang di pasar basah, dll." Caranya bagaimana kang! Ada lagi yang bilang "Bilang stop untuk korupsi." Ahhh klise binti basi.
Pengalaman saya menjalani dua kali masa pemilihan umum adalah kebanyakan nyusahinnya dibanding nyenenginnya. Contoh yang paling gress adalah Polisi jadi takut menjalankan tugasnya menjaga pertandingan bola. Aneh kok bisa tolak kerjaan ya? Mengamankan adalah tugas Polisi, bukannya kerja malah tidak mau keluarkan ijin? Lucu ya.
Untuk penggila bola seperti saya yang tidak mampu berlangganan TV kabel dan sudah tidak kuat lagi begadang, tayangan langsung sepak bola nasional di jam-jam prime time adalah hiburan gratis yang sangat berharga. Gara-gara kegiatan pembodohan publik yang lagi rame-ramenya lenyap sudah satu-satunya hiburan di akhir minggu.
Ini cuma sekedar jeritan desparate orang yang tidak usah didengar.
26 November, 2007
Suara Sumbang dari Mattoangin
Yang menggelitik adalah apakah spanduk-spanduk tersebut betul-betul dibuat atas dukungan murni dari supporter PSM Makassar? atau dukungan tersebut hanya dukungan titipan dari segelintir oknum yang masih setia terhadap beliau yang mendekam di sel? Di saat beberapa kelompok supporter di beberapa kota berlomba-lomba menyuarakan Nurdin untuk mundur, suara lain muncul dari Mattoangin.
Sepakbola Indonesia sedang mengalami masa tergelapnya, mati suri dengan segala keterpurukannya. Kemana lagi sepakbola Indonesia akan dibawa oleh seorang pesakitan yang sudah lebih dari satu kali terbongkar boroknya. Begitu terbutakankah mata saudara-saudara kami di Makassar atau sebegitu jahatnya oknum penjilat yang mengatas namakan supporter PSM untuk menyuarakan dukungan-dukungan tersebut?